Rempah Nusantara
Pernahkah kamu berpikir dari mana asal-usul
nenek moyang bangsa Indonesia itu? Seperti yang telah kita ketahui bahwa
masyarakat Indonesia sangat beragam. Bisa
kita amati dari Sabang sampai Merauke hingga Miangas
ke Rote begitu banyak keanekaragaman manusia
secara fisik dan kebudayaan.
Keragaman ini menjadi kebanggaan
bagi kita sebagai bangsa yang besar. Menariknya, banyak para ahli yang memiliki
pandangan mengenai dari mana asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia.
Selain itu, ternyata banyak sekali dampak yang ditimbulkan dari keanekaragaman ini.
1. Asal-usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia
a. Teori Asal-usul Nenek Moyang
Istilah
nenek moyang itu terdiri dari dua kata yakni nenek dan moyang. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia kata “nenek” berarti
ibu dari ayah dan
ibu atau sebutan
kepada perempuan yang sudah tua, sedangkan “moyang” berarti leluhur. Menurut
Schap (1978), istilah nenek moyang dalam perspektif sejarah berasal dari bahasa Melayu Kuno yang sering masuk dalam dialek masyarakat Minangkabau, Bugis, dan lainnya. Awal mula penggunaan kata nenek moyang ditemukan
pada teks Melayu Klasik yakni Hikayat Hang Tuah.
Pada karya ini kata “nenek moyang”
merujuk pada beberapa istilah yang menjelaskan tentang para pendiri dinasti kerajaan, mengesahkan secara politik dan spiritual bagi seorang raja atau bangsawan, warisan yang harus
dijaga, dan identitas serta kebanggaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa istilah
“nenek moyang” tidak hanya dimaknai sebagai generasi terdahulu, tetapi juga sebagai simbol legitimasi
politik, spiritual, identitas, warisan
budaya, sejarah dan kebanggaan suatu
masyarakat.
Banyaknya ragam ras, etnis, dan budaya
di
Indonesia memunculkan berbagai pendapat mengenai
asal-usul nenek moyang
Bangsa Indonesia. Para
ahli
telah melakukan berbagai penelitian
berdasarkan temuan fosil, artefak atau benda hasil kebudayaan, dan juga bahasa.
Pendapat-pendapat para ahli ini kemudian memunculkan suatu teori mengenai dari mana asal nenek moyang Bangsa
Indonesia. Secara garis besar setidaknya ada empat teori yang menjelaskan mengenai
asal-usul nenek moyang Bangsa Indonesia, yakni teori Yunan, teori Out of Taiwan, teori Nusantara, dan teori Out of Africa.
1) Teori Yunan
Pendukung teori ini antara lain J.R Logan (etnolog dari Inggris), J.H.C Kern (ahli bahasa dari Belanda), R.B van Heine Geldern (arkeolog dari Austria), N.J. Krom (arkeolog dan sejarawan dari Belanda), serta Moh. Ali (sejarawan dari Indonesia).
Sumber: Geo_Arcy (2010)
2) Teori Out of Taiwan
Teori Out of
Taiwan digagas
oleh Peter
Bellwood,
seorang arkeolog dan antropolog asal Australia. Teori tersebut menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Taiwan (Formosa)
yang kemudian bermigrasi ke wilayah Filipina hingga mencapai Kepulauan
Indonesia (Bellwood, 1992). Pendapat ini didukung oleh temuan dalam bidang
linguistik, arkeologi, dan
genetika.
Gambar 1.2 Jalur migrasi nenek moyang berdasarkan
teori Out of Taiwan
Sumber: Elizabeth A. Matisoo-Smith/ www.pnas.org (2015)
Berdasarkan kajian linguistik, bahasa-bahasa daerah di berbagai wilayah Indonesia masuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia yang berasal dari
Taiwan. Banyak kosakata dan struktur bahasa
yang mirip dengan penduduk asli di Taiwan. Berdasarkan data arkeologi, di wilayah Indonesia
bagian timur
banyak ditemukan peninggalan tembikar khas Austronesia yakni budaya Lapita.
Temuan menarik
dalam bidang genetika ternyata terdapat keterkaitan DNA mitokondria penduduk Indonesia Timur
dengan masyarakat Austronesia di Taiwan. Para
ahli pendukung dari
teori ini antara lain J.L.A Brandes (filolog
dan arkeolog dari Belanda), Peter Bellwood (arkeolog dan antropolog
dari Australia), Robert Blust
(ahli linguistik dari Amerika Serikat), Stephen Oppenheimer (ahli genetika
dan antropolog dari
Inggris), dan Harry Truman
Simanjuntak (arkeolog dari Indonesia).
3) Teori Nusantara
Teori Nusantara menyatakan bahwa nenek moyang Bangsa
Indonesia berasal dari
wilayah Nusantara
itu sendiri. Mereka telah hidup dan berkembang sejak
zaman
prasejarah. Banyak temuan fosil
dan artefak di wilayah Indonesia yang lebih lengkap dibanding
dengan wilayah lain di Asia.
Fosil
tertua yakni Meganthropus paleojavanicus, Pithecanthropus erectus, dan
Homo soloensis menunjukkan bahwa Indonesia telah dihuni manusia
purba sejak lama. Dengan demikian sangat memungkinkan
terjadi suatu perkembangan kebudayaan sendiri (Soekmono, 1995). Penggagas teori ini adalah Mohammad Yamin seorang sejarawan sekaligus politikus Indonesia dan R. Soekmono arkeolog dan sejarawan
Indonesia. Teori ini juga didukung oleh Gorys Keraf seorang linguistik berasal dari Indonesia. Ia menyatakan kebudayaan Indonesia lebih tinggi
dari pada wilayah di
sekitarnya, sehingga itu berarti Indonesia menjadi induk kebudayaan di Asia Tenggara.
4) Teori Out of Africa
Out of Africa (OA) merupakan teori yang paling baru dicetuskan dibanding ketiga teori lainnya. Teori Out of Africa berpendapat bahwa Homo sapiens yang dikenal sebagai manusia
modern berasal dari Afrika. Teori ini dicetuskan oleh Louis Leakey
dan Goodall. Pada tahun 1960-an,
mereka berpendapat bahwa Homo erectus
asal Afrika adalah nenek moyang manusia modern di Asia.
Mereka menyebar dari Afrika
ke wilayah belahan dunia lainnya,
termasuk ke Asia
sekitar 70.000–100.000 tahun
yang lalu.
Teori ini didukung dari temuan fosil
dan kajian genetiknya melalui DNA
mitokondria. Penelitian genetik dilakukan menunjukkan
bahwa
terdapat garis keturunan antara manusia modern saat ini dan homo sapiens tertua
di Afrika yang dikenal
dengan Mitochondrial Eve. Pendukung teori ini
antara lain adalah
G. Bräuer, seorang paleoantropolog asal Jerman, C.B Stringer dan P.
Andrews, keduanya paleoantropolog asal Inggris. Untuk lebih jelasnya, perhatikan peta persebaran Homo sapiens
pada gambar berikut.
b. Persebaran Nenek Moyang Secara Geografis
Menurut Koentjaraningrat (1980), manusia tertua Nusantara yang telah ada sekitar satu juta tahun
yang lalu adalah Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis, dan Homo Wajakensis. Manusia
tertua di Nusantara ini telah lama mendiami Pulau Jawa.
Pada perkembangan selanjutnya, ada beberapa ras manusia yang mendiami
wilayah Nusantara.
Sebagai pemahaman dasar mengenai ras manusia yang ada di dunia, Koentjaraningrat (1970) membagi menjadi 5, yakni Ras Australoid, Mongoloid, Kaukasoid, Negroid, dan Ras-ras khusus (Bushman, Veddoid, Polynesia, dan Ainu). Ras Australoid memiliki ciri-ciri fisik: rambut bergelombang hingga keriting, warna kulit cokelat gelap hingga hitam, dan bentuk hidung lebar. Contoh dari ras Australoid adalah suku Aborigin di Australia. Ras Mongoloid memiliki ciri- ciri fisik memiliki rambut lurus berwarna hitam, kulit kuning, mata sipit, dan hidung kecil. Contoh dari ras ini adalah orang-orang dari Asia Ut ar a, Te ng ah , Ti mur , Te ng gar a, Taiwan, suku Eskimo di Amerika Utara. Ras Kaukasoid memiliki ciri- ciri fisik umum yakni warna kulit putih, rambut bervariasi mulai dari warna pirang hingga cokelat gelap dengan tekstur lurus hingga keriting, bentuk hidung mancung dan besar,
dan warna
mata mulai dari biru, hijau, abu-abu dan cokelat. Contoh
ras ini adalah bangsa Eropa, Mediterranean (penduduk sekitar Laut Tengah, Afrika
Utara, Armenia, Arab,
dan Iran), Indic (khususnya di wilayah utara dari India, Pakistan, dan Bangladesh).
Ras Negroid memiliki ciri-ciri
fisik warna kulit hitam atau cokelat gelap, rambut keriting atau ikal, bibir tebal,
badan tinggi. Contoh ras ini adalah African Negroid (Benua Afrika), Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Melayu,
dan
Filipina), Melanesian
(Papua dan Melanesia). Ras khusus ini terdiri dari suku Bushman
yang terdapat di daerah Gurun Kalahari Afrika Selatan, Veddoid yang terdapat
di pedalaman Srilanka dan Sulawesi
Selatan, Polinesia yang terdapat di Kepulauan Mikronesia
dan Polinesia, dan Ainu yang berada di Pulau Karafuto dan Hokkaido, Jepang.
Hasil kajian oleh para
ahli menyimpulkan
bahwa nenek
moyang bangsa Indonesia merupakan
pendatang dari wilayah
lain. Adapun ras-ras pendatang awal di Nusantara
adalah
Negrito (tergolong ras Negroid) dan
Weddid (tergolong
ras Australoid). Lalu, pada gelombang
migrasi Proto Melayu (Melayu tua) dan Deutro Melayu (Melayu muda) terdapat manusia
dengan ciri-ciri Austro-Melanesoid dan Mongoloid. Selain mengenai
jenis ras manusia,
dalam segi bahasa nenek moyang Bangsa Indonesia termasuk
dalam rumpun Austronesia.
1) Negrito dan Weddid
Ras Negrito dan Weddid merupakan kelompok manusia pendatang
yang lebih dahulu mendiami
wilayah Nusantara. Negrito
memiliki kemiripan dengan jenis ras Negro dari Afrika
dan memang termasuk dalam golongan ras
Negroid, namun ukuran
badannya lebih kecil, sedangkan Weddid memiliki ciri-

Gambar 1.5 Ras Negrito
dan Weddid
Sumber: Deniker,
J. (1900)
ciri memiliki warna kulit
coklat tua, tinggi badan rata-rata 155 cm, dan letak
mata
yang dalam, serta masuk dalam kategori ras Australoid.
Persebaran ras Negrito menurut
teori Out of Africa diperkirakan melalui rute
selatan
(Southern Route)
meliputi dari Afrika menuju Semenanjung Arab, kemudian ke India Selatan dan menuju ke
Semenanjung Melayu, lalu
ke Pulau Sumatra,
Kalimantan, Sulawesi dan Papua (Armitage et al, 2011). khusus ras Weddid rutenya
sama dengan Negrito,
namun dimulai dari India Selatan. Paul Sarasin
dan Fritz Sarasin
(1907) Antropolog berasal
dari Swiss menggolongkan suku Toala di Sulawesi sebagai ras Weddid. Contoh suku dari ras Negrito dan Weddid di Indonesia adalah suku Kubu yang ada di Jambi,
suku Penan di Kalimantan, dan suku Toala di
Sulawesi (Winzeler, 2011).
2) Ras Australomelanesid
Kelompok Austro-Melanesoid disebut sebagai penduduk awal di Indonesia
karena datang lebih dahulu daripada kelompok lain. Ras
Austro-Melanesoid adalah gelombang awal Homo Sapiens
berasal dari Afrika yang menyebar lewat jalur selatan
(Southern Route) pada masa glasial
akhir (glacial wurm) menyusuri pesisir
Arabia ke dataran

Gambar 1.6 Ras Austro-Melanesoid
Sumber: Deniker,
J. (1900)
Persia menuju ke India, lalu menyusuri
garis pantai selatan
Asia menuju
Australia. Ras ini juga merupakan
sub ras dari Australoid. Ras ini memiliki
ciri-ciri warna kulit
gelap, rambut keriting, hidung
lebar, bibir tebal dan bertubuh kecil.
Benda hasil kebudayaan ras ini antara lain kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam, kapak genggam, dan serpih (flakes), bone culture, batu kecil
(microlith), ujung mata panah, dan abris sous roches. Wilayah
persebaran ras ini ke arah timur, seperti
Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Di Indonesia yang termasuk dalam kategori ras Austro-Melanesoid
antara lain
suku Asmat, Dani, Amunge, Korowai,
dan Biak.
3) Ras
Mongoloid
Ras ini
memiliki ciri-ciri fisik
warna kulit kuning langsat sampai sawo matang,
rambut lurus, mata sipit, bentuk
wajah cenderung bulat atau oval, dan hidung berukuran sedang. Persebaran ras ini melalui dua
gelombang migrasi,
yakni Proto Melayu dan Deutro Melayu. Jalur migrasi Proto Melayu melalui arah barat dan
timur. Arah barat dimulai dari Asia

Gambar 1.7 Ras Mongoloid
Sumber: Deniker,
J. (1900)
Timur menuju Vietnam dan dilanjutkan ke Semenanjung Melayu, lalu Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali.
Arah timur melalui
Tiongkok menuju Jepang, lalu Taiwan kemudian Filipina dan masuk Nusantara melalui Sulawesi (Koentjaraningrat, 1970). Hasil kebudayaan dari ras ini berupa mata panah, kapak persegi, abris sous roches, peralatan dari tulang, dan lukisan gua. Adapun contoh-contoh suku yang masuk kategori ras mongoloid antara lain suku Jawa, Sunda, Batak, Minangkabau, Dayak, Bugis,
Bali, Sasak, dan Madura.
Gelombang migrasi
nenek moyang Bangsa Indonesia terdiri dari
dua, yakni Kedua ras yakni Proto Melayu (Melayu tua) dan Deutro Melayu
(Melayu Muda). Ras manusia yang terlibat
dalam migrasi ini secara umum adalah Austro-melanesoid dan Mongoloid.

Gambar 1.8 Jalur migrasi Proto
dan Deutro Melayu
Sumber: Anonim/ Infogram
1) Gelombang pertama (Proto Melayu)
Migrasi pertama
nenek moyang bangsa Indonesia diduga berasal dari Yunan,
Tiongkok Selatan dan diperkirakan
terjadi sekitar
1.500–500 SM. Gelombang
pertama ini dikenal dengan Proto melayu
atau Melayu tua. Jalur
penyebaran terbagi menjadi
dua yakni barat dan timur. Rombongan ras manusianya juga terbagi menjadi
dua kelompok besar,
yakni Ras Austro-Melanesoid
dan Mongoloid.
Jalur
barat dimulai dari Yunan bergerak
ke selatan menuju ke
Vietnam- Kamboja-Semenanjung Malaya, kemudian ke Indonesia melalui Pulau Sumatra dilanjutkan ke
Pulau
Jawa-Bali dan wilayah
lainnya. Rombongan migrasi
dari jalur barat ini adalah Ras Mongoloid yang memiliki
ciri-ciri fisik secara umum berkulit kuning langsat,
berambut lurus hitam dan tebal,
dan bentuk mata sipit. Kebudayaan yang mereka tinggalkan adalah budaya Neolitik,
contohnya kapak persegi. Jalur timur melalui
Vietnam-Taiwan-Filipina kemudian masuk
wilayah Indonesia bagian utara yakni Sulawesi-Maluku hingga Papua.
Ras yang melalui jalur timur adalah Austro Melanesoid
dengan ciri-ciri fisik kulit gelap, rambut keriting, mata bulat, dan hidung lebar. Mereka membawa kebudayaan Neolitikum yakni kapak lonjong.
Kehidupan sosial masyarakat
Proto Melayu adalah hidup
secara berkelompok kecil yang dipimpin oleh kepala suku. Sudah memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme.
Secara ekonomi,
kehidupan mereka adalah berburu dan bercocok tanam sederhana. Manusia Proto Melayu juga melebur dengan
penduduk asli yang kemudian menjadi suku-suku
yang ada di
Indonesia, misalnya Batak, Dayak, Toraja, Alas, dan Gayo.
2) Gelombang kedua (Deutro Melayu)
Migrasi di gelombang kedua ini
diperkirakan terjadi sekitar
tahun 500
SM. Mereka sering dikenal
dengan Deutro Melayu atau
Melayu muda. Deutro Melayu merupakan percampuran budaya dengan para pendahulunya, yakni Proto Melayu. Kebudayaan yang berkembang pada periode ini berupa logam dan perunggu
sehingga hasil kebudayaannya adalah benda-benda yang terbuat dari kedua bahan tersebut.
Gelombang kedua ini dimulai dari
Vietnam yakni Dongson
di daerah
Tonkin. Hanya satu kelompok
ras yang melakukan migrasi yakni Austronesia.
Mereka bergerak dari Tonkin-Malaysia, menyeberang ke Sumatra kemudian ke Jawa-Madura-Bali-Kalimantan dan sekitarnya. Contoh peninggalan dari Deutro Melayu adalah kapak corong, nekara, kapak sepatu dan lain sebagainya termasuk benda-benda megalitik yakni menhir,
dolmen, subur baut, punden berundak, dan sarkofagus.
Kehidupan sosial masyarakat Deutro Melayu sudah terbentuk kelompok yang lebih besar, seperti membentuk desa dan sudah terdapat
pembagian kerja, misalnya pemimpin, petani, dan pengrajin. Kepercayaan mereka animisme dan dinamisme, serta sudah mulai memuja roh leluhur. Kehidupan
ekonominya adalah dengan pertanian sawah dan mulai
melakukan perdagangan. Kegiatan perdagangan dapat dibuktikan dengan hasil kerajinan
logam dan perunggu yang telah mereka hasilkan
menjadi perhiasan dan lain sebagainya
Sumber: Burenhult (1999)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar